Indonesia pernah mengalami gempa dan tsunami dahsyat di Aceh dan sekitarnya. Gempa dan tsunami serupa yang menewaskan banyak orang seperti peristiwa 26 Desember 2004 itu bisa terjadi lagi di Sumatera. Dan kota Padang yang baru diguncang gempa tahun lalu, sebagai garis bidiknya.
Demikian peringatan yang disampaikan tim ahli seismologi seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (18/1/2010). Peringatan itu dituangkan dalam surat untuk jurnal Nature Geoscience.




"Waves to remember," komentar Arjen Pennekamp, peselancar asal Belanda yang telah menghabiskan 18 hari di Pulau Masokut atau lebih dikenal dengan Pulau Nyangnyang, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.Komentar itu rasanya tidak berlebihan. Dahsyatnya ombak Mentawai membuat kepulauan itu selalu diingat mereka yang pernah mampir ke daerah yang terletak 120 mil dari Kota Padang tersebut. Hampir setiap hari Arjen dan saudaranya, Jelle, dimanjakan gulungan ombak Mentawai yang terkenal di kalangan peselancar dunia. Bahkan ini kali kedua Arjen mengunjungi Mentawai. "Keindahan, ketenangan, kealamian, dan tentu ombaknya yang menantang, itulah yang membuat saya kembali lagi," katanya menjelaskan tentang kehadirannya saat itu.
Palasik menurut cerita, legenda atau kepercayaan orang Minangkabau adalah sejenis makhluk gaib. Menurut kepercayaan Minangkabau palasik bukanlah hantu tetapi manusia yang memiliki ilmu hitam tingkat tinggi. Palasik sangat ditakuti oleh ibu-ibu di di Minangkabau yang memiliki balita karena makanan palasik adalah anak bayi/balita, baik yang masih dalam kandungan ataupun yang sudah mati (dikubur), tergantung dari jenis palasik tersebut.
Orang Minangkabau memiliki tradisi seni pertunjukan yang termasuk paling kaya ragamnya di Indonesia. Acara-acara atau kegiatan-kegiatan yang lazim dilengkapi dengan seni pertunjukan adalah pesta keluarga (seperti perkawinan, khitanan, membuka rumah baru, menobatkan katua adat baru) serta perayaan-perayaan rakyat (seperti saat panen, meresmikan mesjid, perayaan hari besar agama).
Kari Garejoh galak-galak sengeang surang sambia mambaco surek kaba ‘Singgalang' di palanta lapau Uwo Pulin. Walau indak mancolok bana, tapi panampilan Kari saroman itu maundang tando tanyo di kapalo kawan-kawannyo.