Tubuh yang Terpasung

  Rating: 0 ( 0 Votes)
Dikirimkan pada 24 Apr, 2016 | Dibaca: 527 | Nomor Artikel: #0702
Sarankan Laporkan Print Favorit

SETENGAH tak percaya aku mendengar kabar tentangmu. Bagaimana mungkin kau, orang yang terbiasa menerima banyak kesulitan dengan kesabaran tanpa ampun, tiba-tiba menjadi orang paling lemah sedunia. Kesakitan serupa apa yang mengungkungmu hingga tak bisa kau lepaskan diri darinya?

Aku mendengar cerita tentangmu sepotong-sepotong. Tak ada alamat tetap, juga tak ada yang tahu persis keberadaanmu. Kamu seperti menghilang oleh banyak hal. Sampai seorang teman meneleponku malam-malam, mengabarkan berita buruk itu dengan ketenangan yang tak terduga.

“Sudah beberapa bulan ini,” katanya.

Celakanya aku tak kunjung sempat pulang. Pekerjaan dan kota yang jauh telah menyeretku pada kesibukan yang tak masuk akal. Dan cerita tentangmu, kuanggap kekonyolan yang dilemparkan seorang kawan untuk berbagi kisah lama.

Kau yang dulu kukenal hampir serupa diri sendiri kini nyaris tak bisa kukenali. Jika karena jarak, bukankah tidak hanya sekali ini kita beranjak? Kau tersuruk di sudut ruang yang kecil dan pengap. Kau dipasung. Sebelah kakimu digelang. Matamu cekung dan kosong. Tubuhmu kurus kering. Kusam tak terawat. Kemana kegembiraanmu yang dulu, gurauan-gurauan nakal di lepau kopi? Kemana keceriaanmu dulu yang serupa tak habis-habis? Mengapa kau tak bisa matang justru ketika kesulitan-kesulitan itu mulai bisa kau kuasai?

Telah lama aku mendengar gumaman-gmaman buruk tentangmu. Orang-orang menceritakanmu dengan sedikit kesabaran yang bersisa. Aku ingin segala kesulitan, kepedihan, kemarahan, kemuraman keluar dari mulutmu. Seperti dulu, saat kau menangisi bapakmu, menyesali ibumu. Kamu mengumpat dengan bahasa orang dewasa. Kulihat kilatan dendam dari matamu yang serupa bara. Setelah itu, ketika sore selesai, kau bangkit dari dudukmu dan kembali terlihat keceriaan masa kanak pada wajahmu. Di mataku, kau terlalu cepat dewasa dan memahami banyak hal.

***

KAU diam saat kusapa. Ketampananmu tersuruk pada balutan tipis kulitmu yang pasi tak tersentuh matahari. Dulu kau lelaki rapi —menambahkan sedikit minyak pada rambutmu dan membulir pakaian dengan aroma sengit— kini kusam dan berantakan. Persetubuhanmu dengan ruang, tempat kau makan, minum, buang tahi sekaligus kencing membuat aromamu terasa apak dan bacin. Tentu, sudah lama sekali kau tak tersentuh air. Kukumu panjang tak terawat, rambut menutupi sebagian wajahmu, jenggot dan kumis berebut tumbuh dengan semena-mena. Ingin menangis saja aku oleh kepiluan yang kian menjadi-jadi ini. Tapi, seperti katamu dulu —pada petang terakhir kau habiskan air mata, “Ia —tangis itu— tak pernah bisa menyelesaikan banyak hal, hanya menambah-nambah kepedihan. Setiap menangis, makin kental saja rasanya bahwa aku tak memiliki siapa-siapa, “ katamu.

“Tapi aku merasa memilikimu,” kataku.

Aku kembali menyapamu. Kau menjawab dengan lenguhan-lenguhan tak jelas. Ungkapan-ungkapan asing menggeliat dari bibirmu yang kering dan pucat. Kau betul-betul tak mengenalku lagi. Ke mana jiwamu pergi sehingga segalanya menjadi alpa?

Aku tidak sepenuhnya percaya dengan apa yang dirumuskan orang-orang tentang kamu; keluargamu berantakan, hubungan cintamu tak terselesaikan, dan hidup yang luluh lantak, lalu kau gila karenanya. Enak aja. Aku menduga ada hal lain yang tersembunyi jauh di dasar hatimu. Jika saja kegilaan ini hanya pura-pura akan kupukul kamu dengan kemarahan yang dibikin-bikin. Aku akan menyediakan seluruh waktuku untuk mendengar kau berkisah seperti dulu. Bahkan, untuk seluruh hidupku.

Aku mencoba meraba hal-hal rahasia padamu, bahwa kau tak kunjung bisa menata hidupmu yang berkeping, menyusun bagian-bagian paling manis dalam hidupmu. Kau selalu gagal. Kau habis kesabaran. Sementara tak ada orang yang bisa kau percayai.

Aku lebih mempercayai dugaanku sendiri ketimbang aku mendengar ocehan-ocehan tak jelas orang-orang. Kau gila karena cita-citamu selangit, sementara kau tak berbuat banyak. Itu kata mereka. Tapi aku tahu, dari dulu kau merangkak, menata masa depan yang selalu rusak. Mereka juga mengatakan kau patah hati, rasanya tak terlalu sulit bagimu mencari pengganti. Atau aku harus membenarkan bahwa kegilaanmu disebabkan oleh guna-guna oleh seseorang yang sempat kau sakiti? Kau lelaki gagah dan sempurna tak sedikit yang diam-diam menaruh hati dan menuai kegagalan. Di luar itu kau memiliki masalalu yang kelam. Bisa saja satu di antara musuhmu melakukan balas dendam. Tapi siapa setega itu melempar guna-guna? Atau aku harus mempercayai kekonyolan yang satu ini, bahwa kau telah memilih jalan pintas untuk menjadi kaya? Kamu menjadi penggali kuburan Cina untuk menemukan harta dari sana. Kau juga belajar ilmu kebatinan dan semacamnya. Kau belum siap memiliki rapalan semacam itu hingga berbalik menghajarmu. Mereka juga mengatakan jilawik telah bersarang di tubuhmu dan tak seorang pun bisa mengeluarkannya. Sudahlah. Aku tak ingin menduga-duga dan hanya menambah-nambah kepedihan saja.

Yang aku tahu, hidupmu mulai sulit sejak bapakmu diam-diam meninggalkan rumah. Sementara kau dan saudara-saudaramu yang lain tumbuh tanpa perawatan yang berarti. Ibumu menyimpan berahi yang tak terselesaikan dengan seorang lelaki. Ia telah diguna-guna, kena sijundai. Tak tanggung-tanggung, tak sekadar capak baruak atau pun pakasiah cirik anjing. Ibumu mengalami cinta tak tertahankan dan diam-diam menjalin perselingkuhan. Kita tak lebih dari anak kelas dua esde waktu itu.

Semua orang tahu belaka aroma busuk perselingkuhan itu. Para pelaut sering memergoki ibumu tengah bergelut dengan si lelaki di sebalik pohon nipah, di keteduhan muara. Tak ada yang berani berbuat apa-apa karena semua tahu belaka ia urang bagak dan dibekingi urang santiang pula. Ia penuh dengan ajian dan kesaktian. Ia perapal ilmu basi paling sempurna, konon memiliki gasiang tangkurak. Orang-orang tahu belaka ia pemuda kurang ajar dan pantas dilenyapkan. Sepasang pengantin akan dibuat tak bisa tidur dan merasa gerah. Bisa dipastikan, esok pagi marapulai akan kembali ke rumah orang tuanya. Atau kenakalan yang termaafkan ketika dia mengunci mulut marapulai sehingga tak bisa lurus mengucapkan ijab kabul. Ia parewa di tanah sendiri. Keluarganya telah lama selesai sejak pembantaian orang-orang PKI. Ayahnya lelaki berkuasa dan kaya di kampung pesisir itu. Hanya dia dan dua orang adiknya saja yang bersisa. Mereka tidak tega membunuh anak-anak. Bangkai ayahnya di biarkan mengapung di lautan. Sejak itu mereka hidup dalam penderitaan tak tertahankan. Menjadi budak di kampung sendiri. Ia pergi, meninggalkan dua adiknya yang bertahan hidup dengan cara sendiri-sendiri. Kemudian mereka diasuh oleh Pakiah Kayo, urang santiang itu. Lama setelahnya ia kembali dengan kenakalan yang tak terumuskan dan menjadi kaki tangan Pakiah Kayo. Dan ibumu, menurut gumaman yang sempat kita dengar, adalah sebentuk balas dendam yang tidak kita paham.

Kau diselamatkan etek-mu dan tinggal bersamanya. Adikmu tetap di rumah bersama kakak perempuanmu. Di kelas lima kembali kita satu sekolah. Keluargamu telah kembali utuh meski tidak gampang menata ulang jika kisah muram it uterus bergasing di mulut orang-orang. Mamakmu —sekembalinya dari rantau— telah menghabisi lelaki sok jagoan itu dalam sebuah pertarungan yang tak tanggung-tanggung. Dua pandeka berhadapan. Silek dan jurus berhamburan. Tak ada yang bisa meramalkan siapa yang akan memenangkan pertumpahan darah ini. Sampai akhirnya, mamakmu berhasil melumpuhkan lelaki yang tak mempan parang dan senjata apa pun itu. Tak ada kekuatan yang tak memiliki kelemahan, mamakmu tahu itu. Laki-laki itu mati. Ini sekaligus mengembalikan maruah keluargamu meski tidak menyelesaikan upek dan gunjing. Dan bapakmu, begitu saja memaafkan ibumu dan menerima sebagai kesalahan di masa lalu. Mamakmu harus mendekam di penjara untuk bertahun-tahun kemudian sebagai akibat kesemena-menaannya menyudahi hidup seseorang. Dan lelaki celaka itu dikubur begitu saja layaknya kematian keluarganya dulu. Dua adiknya menerima hukuman yang lain, mereka diusir selamanya dari kampung. Pakiah Kayo tak setuju, sebab dia kehilangan dua pekerjanya yang paling rajin.

***

DEMIKIANLAH, kau tumbuh dalam kemuraman kanak yang tak terumuskan. Perkenalanmu dengan rokok dan minuman telah mendekatkanmu pada jurang yang lain; meja judi. Di rumah kau merasa makin asing. Kau mengutuk bapakmu yang lebih banyak diam. Kau ingin, sesekali waktu dia memarahi dan mencambukmu dengan rotan jika kau tidak bershalat dan pergi ke surau. Dia serupa boneka yang tersembunyi di dalam kamar, keluar hanya untuk pekerjaannya menjadi supir boat pagi dan sore hari. Pagi-pagi sekali saat menjemput anggota bagan dan sore saat mengantar mereka kembali ke laut. Ia tak bicara ketika kau berani merokok di hadapannya. Dia tak kunjung memaki ketika tahu kau sudah bisa mabuk dan menjadi maling kecil di musim cengkeh. Puncaknya, kau keluar dari sekolah dan mulai jarang di rumah. Dan ibumu, sejak kejadian buruk dulu, tidak lagi seorang perempuan riang dan gampang bercakap. Ia lebih banyak bersitungkin di dapur, menyapu lantai, mengelap kaca, beres-beres di belakang. Menyapu dan hamper sepanjang waktu melakukan itu, seperti ingin menghapus debu buruk yang tertanam di rumah itu. Ah, sulit memang menghapus masalalu yang diketahui banyak orang. Percintaanmu yang gagal hanyalah menambah-nambah berat bebanmu.

Setelah pernikahan kakak perempuanmu rumah menjadi kian suram. Seiring bertambahnya usia, aku melanjutkan sekolah ke kota dan kau memilih menjadi pendekar di warung kopi. Bergulat dengan kartu dan minuman. Itu tahun-tahun yang sulit bagimu, sesekali kau harus menghabiskan malam dengan sedikit pertarungan kecil, menyisakan memar dan bekas luka. Pada malam-malam tertentu, ketika ada perhelatan dan keramaian semacamnya selalu saja kau terlibat perkelahian-perkelahian konyol. Setidaknya saat itu aku masih bisa mendengarmu dan sedikit bernasihat. Di waktu-waktu tertentu; di musim ikan misalnya ñsaat di mana kau menjadi penggalas ikan liar dengan mendatangi bagan malam-malam membeli beberapa keranjang ikan dari merekañ kau akan datang ke kota diam-diam, berbaring di kamar kosku terbuka untuk siapa pun. Pun di musim-musim sulitmu, setelah perkelahian penuh dendam atau ketika kau dicari-cari karena banyak hal; maling ayam misalnya jika tidak mencuri cengkeh, pala, durian dan rambutan, aku mulai cemas dan mengkhawatirkanmu, tapi kau balas dengan tertawa.

Kau memutuskan pergi merantau ketika ayah menyuruhku kuliah ke pulau Jawa. Negeri seberang menjadi pilihanmu. Tak ada yang bisa kau lakukan lagi sebagai anak muda putus sekolah dan tak memiliki keahlian apa pun. Aku tahu, ini hanya kesemena-menaan ayah atas kedekatan kita. Pertemanan kita tak sedikit menimbulkan gunjing, katanya. Setelahnya aku mulai bersitegang dengan kesibukan-kesibukan kecil dan tak jelas. Tentang kau, aku masih sempat menanyakan pada kawan-kawan lewat surat maupun telepon.

Di tanah seberang kau tetaplah seorang pemalas yang banyak bergulung di dalam kamar. Hari-hari terakhirmu di sana sedikit menyadarkanmu akan masa depan. Sayang, kesadaran itu tak sepenuhnya diberkati. Seba­gai pendatang haram kau ditangkap dalam se­buah razia tak terduga. Beberapa minggu kau ditahan di balai sebelum kemudian dipulang­kan. Gajimu tak sempat dibayar taoke, lembaran ringgitmu yang sisa disita polis. Berbu­lan-bulan kau terdampar dari satu pulau ke pulau lainnya karena kapal tak benar-benar mengantar kepelabuhan yang benar. Keka­lahan demi kekalahan itu yang terus menghajarmu. Membenamkanmu tanpa ampun. Aku tak lagi bisa berbuat banyak karena jarak telah membuatku tak lagi mengenalmu secara utuh.

Tapi aku tak benar-benar melupakanmu.

Beberapa waktu kemudian kau terpuruk di kampung halaman. Oleh mamakmu —yang sudah keluar dari penjara, menikah dan bekerja— kau dibelikan mesin pembajak sawah. Hasil persekongkolan dia dan ibumu dengan menjual sepetak parak kelapa, harta pusaka mereka. Dasar kau keras kepala, pada suatu waktu tak tertahankan mesin bajak itu kau jual dan uangnya kau habiskan. Kemudian kau pergi ke Pekan Baru memulai hidup sebagai buruh pencetak tembok.

Peristiwa berikutnya hampir tak bisa dipercaya. Beberapa bulan kemudian kau muncul dengan keadaan paling buruk. Beberapa pelaut menemukanmu terkapar di samping sebuah sampan di sebuah pagi. Tubuhmu penuh bekas penyiksaan. Badanmu penuh memar dan bekas luka. Keluarga menerimamu dengan tulus justru dalam keadaanmu yang paling parah.

Sejak itu, kau mulai terlihat menyebalkan bagi orang-orang. Kau bercakap dengan bahasa asing, seperti orang menggigau, duduk di warung dan memakan makanan sampai kenyang tanpa berkehendak untuk membayar. Kau mulai mengganggu orang-orang dan berkeliaran di jalan-jalan. Membuka seluruh pakaian dan mengusik anak sekolah. Para gadis mulai ketakutan dan terancam. Di luar itu kau tetaplah seorang penyendiri dan pemurung. Kau banyak bercakap dengan pohon pisang, rokok, tiang dan dinding rumah, seakan di sana seluruh masa lalumu tersimpan, seolah hanya mereka yang bisa dipercaya. Rumusan tentangmu makin menjadi-jadi. Bahwa kau terkena pekasih dan guna-guna. Di luar itu dugaan-dugaan lain tak hanya tertuju untukmu tapi juga keluargamu dan seluruh masalalumu. Sebagian lagi merumuskan sedikit lebih baik, bahwa kau kerasukan jumalang, jilawik dan hantu awuah. Sebagian lainnya merumuskanmu lebih kejam, kau memakan harta pusaka.

Puncaknya, suatu malam kau mendatangi Pakiah Kayo dan begitu saja menampar dan memakinya seolah kau bisa membaca seluruh petaka berasal dari sana. Setelahnya kau sembunyi serupa bocah di sesemak nipah.

Besoknya orang-orang menangkap dan menggiringmu pada perayaan yang paling buruk. Pohon pinang di tebang untuk meng­apit kedua pahamu di kandang belakang. Se­jak itu hidupmu mengalir di sana. Berhari-ha­ri, berminggu-minggu, berbulan-bulan kau dipasung.

Semua orang tahu siapa Pakiah Kayo ayah­­ku itu. Ia menyimpan banyak rahasia. Ia yang menghitam dan memutihkan. Dan kau, hanya bocah kecil yang harus menerima utang dendam yang bergentayangan di pesisir ini.

***

DAN di depanmu kini, aku membaca sebuah rahasia yang tak terduga. Aku masih menunggu saat dimana kelak kau begitu jujur bercerita seperti kanak kita. Bagaimanapun aku merasa mengenal dirimu lebih dari yang lain. Jika kau merasa tak memiliki siapa-siapa, aku pernah merasa memilikimu. Kali ini pun. Sekali pun omongan-omongan buruk terus bertebaran.

Bersama angin, garam beserta, diam-diam menyimpan karat. Dan kau, sebuah dendam dari orang-orang di masalalu telah menyengsarakan seluruh hidupmu. Dan aku. Sebuah rahasia haruslah selalu terjaga. Tapi bagiku, betapa menyiksa. (35)

Catatan:

Digelang, dirantai. Pekasih, pengasihan. Jilawik, jumalang, hantu awuah adalah jenis-jenis makhluk halus yang diyakini suka mengganggu. Jilawik (Jin Laut) dipercaya sering merasuki tubuh. Biasanya seseorang itu hilang. Sijundai, sejenis ilmu gaib yang bisa membikin orang gila, gasiang tangkurak, gasing yang terbuat dari tengkorak orok yang meninggal, capak baruak=mantra-mantra, pakasiah cirit anjing, salah satu jenis pengasihan. Marapulai, pengantin laki-laki. Upek, umpat. Ilmu basi, ilmu kebal senjata tajam. Urang bagak, istilah untuk orang yang ditakuti dan disegani. Urang santiang, orang yang memiliki kekuatan bathin. Parewa, semacam preman yang disegani. Mamak, saudara laki-laki ibu, etek, adik perempuan ayah. Polis, polisi (Malaysia), balai, tempat penahanan imigran gelap, semacam penjara, dikenal juga dengan istilah lokap (Malaysia).Sumber

Artikel Terkait