Yus Dt.Parpatiah

  Rating: 0 ( 0 Votes)
Dikirimkan pada 01 Aug, 2015 | Dibaca: 804 | Nomor Artikel: #0564
Sarankan Laporkan Print Favorit

Periode 80-90an merupakan zaman pita kaset masih laku keras diperdengarkan. Saat itu orang Minang dimanjakan karya-karya seorang seniman asal Nagari Sungai Batang Tepian, Danau Maninjau. Asalkan ada lapak penjual kaset pita, di situ pula berkumpul orang segala umur mendengarkan karyanya. Ada yang tertawa terpingkang-pingkal, ada yang merenung dalam-dalam, ada pula yang sampai menitikkan air mata karena mendengar karya tersebut. Siapa lagi kalau bukan Yus Datuak Parpatiah, seorang seniman, budayawan, sejarawan dan ulama ternama.
Lewat corong rekaman Balerong Group Jakarta (BGJ), Yus Datuak Parpatiah merekam berbagai karya seni seperti narasi petuah, dialog, dan drama audio. Seniman Minang modern seperti Budi Setiawan (Buset) dan kawan-kawan sering merekam drama dalam setiap putaran videoklipnya. Tetapi belumlah sefenomenal karya-karya Yus Datuak Parpatiah. Belum ada siapapun bisa menandingi kesuksesannya hingga sekarang.

Pertama kali ketertarikan penulis muncul terhadap karya seniman yang biasa dipanggil Angku Yus itu saat usia menginjak 7 tahun. Waktu itu sekira-kira duduk di bangku kelas dua sekolah dasar. Karya beliau yang pertama kali menarik hati adalah drama audio berjudul Rapek Mancik. Bagi sidang pembaca yang pernah mendengarnya, tentulah tidak akan lupa betapa berkesannya karya Angku Yus yang satu itu.

Berturut-turut penulis menikmati karya-karya Angku Yus yang lain, seperti Kopi Tanbaro, Bakaruak Arang, Simpang Duo, Pitaruah ayah, Kumari Bedo, Ratok Mak Enggi dan puluhan karya lainnya. Kebetulan, untuk menikmati karya-karya tersebut, penulis tidak susah mendapatkannya karena ayahanda penulis sendiri adalah pengagum berat Angku Yus. Sehingga tentu saja puluhan kaset pita keluaran BGJ pimpinan Yus Datuak Parpatiah itu masih tersusun rapi di lemari kaset hingga sekarang.

Jika disimak karya per karya, maka sangat layak satu kesimpulan kita sematkan pada sosok Yus Datuak Parpatiah, yaitu seniman langkok-langkok (lengkap). Bagaimana tidak, deretan karya beliau telah menyihir pendengar dengan segala ilmu yang terkandung di dalamnya. Mulai dari ilmu agama, adat istiadat Minangkabau, keberagaman budaya, sejarah, akhlak tasawuf, aqidah tauhid, sosiologi, antropologi dan lain sebagainya yang tak terhitung banyaknya.

Tidak salah Yus Datuak Parpatiah didahulukan selangkah dan ditinggikan seranting dalam musyawarah yang digelar perantau Minang di Jakarta, tempat beliau menetap hingga hari ini. Karena memang tidak diragukan lagi eksistensinya sebagai budayawan, ulama dan pemuka adat yang begitu peduli terhadap pelestarian budaya Minangkabau. Hebatnya, Angku Yus memilih jalan yang lain dari biasanya dalam melestarikan budaya tersebut. Menyajikannya secara audio dan bahkan beberapa serial videonya sudah bermunculan.

Angku Yus, Belum Nampak Penggantinya
Kaset pita sebentar lagi jadi barang antik. Kemajuan teknologi tanpa disadari memberangus keberadaan tape yang telah berjasa mendendangkan petuah-petuah adat karya Yus Datuak Parpatiah. Kenyataannya, zaman video yang booming sejak awal milenium lalu tidak mampu dimaksimalkan oleh BGJ. Wajar saja karena pemimpin BGJ-Yus Datuak Parpatiah-juga manusia. Sehingga hukum adat, hari bertambah umur berkurang, tak bisa dielakkan pula pada diri beliau yang sudah berkepala delapan.

Hingga saat ini, beberapa karya Yus Datuak Parpatiah telah direkam ulang dan dipasarkan dalam format video. Sebagian sudah singgah pula dari satu komputer ke komputer lainnya dengan perantara flashdisk sebagai tanda zaman telah berubah. Tapi kalau bicara minat anak muda sekarang untuk mendengarkannya, jauh panggang dari api.

Jangankan pengganti sosok Yus Datuak Parpatiah yang diharapkan, sekedar mencari anak muda masa kini yang tahu karya-karyanya Angku Yus saja alangkah susahnya. Wajar bila pesan lengkap kehidupan yang terkemas dalam karya-karya tersebut ikut menghilang seiring tergerusnya tape dan kaset pita oleh kemajuan zaman. Wajar pula anak muda sekarang, bahkan termasuk penulis dan sidang pembaca, tak begitu peduli lagi dengan tata kehidupan yang sejalan dengan agama dan seiring dengan adat istiadat.

Kabar baiknya, kelompok teater akhir-akhir ini tengah menjamur dan menarik hati sebagian muda-mudi. Namun penekanan perlu dilakukan, bahwa seni teater tak sekedar kegiatan bersibuk diri dengan bermain drama tanpa makna. Bisa saja, mementaskan karya-karya Yus Datuak Parpatiah di atas panggung menjadi salah satu pilihan cerdas membangkitkan kembali sikap sadar budaya. Karena tak disangkal lagi, beda zamannya beda pula cara menyampaikannya.

Yus Datuak Parpatiah telah memberikan nyaris seluruh hidupnya demi budaya Minang lewat karya-karyanya yang fenomenal. Karya tersebut juga telah diestafetkan kepada kita anak muda. Tinggal bagaimana kita membawa tongkat estafet tersebut berlari kencang melawan sebagian perkembangan zaman yang bertolak belakang dengan adat istiadat. Dengan tujuan, agar budaya Minang tetap menjadi ‘raja budaya’ di tanah Minang. Sesuai kata pepatah, ndak lakang dek paneh, ndak lapuak dek hujan yang berarti budaya yang takkan lekang oleh panas dan takkan lapuk oleh hujan. (Juli Ishaq Putra, Jurnalis Harian Umum Haluan)

Artikel Terkait