Zubir Said

  Rating: 0 ( 0 Votes)
Dikirimkan pada 01 Aug, 2015 | Dibaca: 611 | Nomor Artikel: #0562
Sarankan Laporkan Print Favorit

Zubir Said (lahir di Fort de Kock (sekarang kota Bukittinggi, Sumatera Barat), Hindia Belanda, 22 Juli 1907 – meninggal di Singapura, 16 November 1987 pada umur 80 tahun) adalah seorang musisi dan komponis Singapura keturunan Minangkabau. Ia lebih dikenal sebagai pencipta lagu kebangsaan Singapura, "Majulah Singapura", yang ia ciptakan saat masih memiliki kewarganegaraan Indonesia pada tahun 1958.

Zubir merupakan seorang musisi otodidak yang dijuluki sebagai komponis dengan "jiwa Melayu sejati". Ia dipercaya telah menggubah lebih dari 1.500 lagu, namun hanya 1.000 di antaranya yang telah dipublikasikan. Selama 12 tahun ia bekerja sebagai penggubah musik dan penulis lagu di salah satu perusahaan penerbit film Melayu, Cathay Keris yang merupakan anak perusahaan dari Cathay Holding Organization.

Masa kecil

Zubir dilahirkan pada tanggal 22 Juli 1907 di kota Bukittinggi, Sumatera Barat. Ia merupakan anak sulung dari keluarga Minangkabau yang beranggotakan 3 anak laki-laki dan 5 anak perempuan. Ibunya meninggal ketika ia masih berusia 7 tahun. Zubir menempuh pendidikan di sekolah-sekolah Belanda, namun tidak memiliki ketertarikan dengan studi akademik, melainkan lebih tertarik dengan musik. Sejak sekolah dasar, ia telah diajari bagaimana cara membuat dan memainkan suling oleh temannya. Kemudian di sekolah menengah pertama, ia mulai mempelajari cara memainkan gitar, drum, dan alat musik lainnya.

Merantau ke Singapura

Teater Victoria di Singapura yang merupakan tempat dimana karya musik Zubir dipentaskan pertama kali untuk umum
Pada tahun 1928, saat menginjak usia 21 tahun, Zubir memutuskan untuk mulai mencari nafkah sebagai musisi di Singapura, sesuai saran dari temannya. Pekerjaan pertama Zubir di pulau yang dijuluki temannya sebagai tempat yang penuh dengan gemerlap lampu tersebut adalah sebagai musisi bersama kelompok opera Melayu City Opera, dimana ia menjadi pemimpin kelompok opera tersebut.

Pada tahun 1938, Zubir meninggalkan Singapura untuk melangsungkan pernikahan di pulau Jawa dengan Tarminah Kario Wikromo, penyanyi keroncong yang telah ia kenal saat mulai bekerja di perusahaan rekaman His Master's Voice pada tahun 1936. Setelah menikah, ia membawa istrinya mengunjungi kota kelahirannya di Bukittinggi pada tahun 1941, sebelum pecahnya Perang Dunia II. Ia kembali ke Singapura pada tahun 1947, tidak lama kemudian ia sempat bekerja sebagai juru foto di surat kabar Utusan Melayu. Pada tahun 1949, ia menjabat sebagai pemimpin perusahaan Shaw Brothers Malay Film Production. Tiga tahun kemudian, ia menjadi penggubah musik di salah satu perusahaan penerbit film Melayu, Cathay Keris, dan menjadi penulis lagu untuk film-film seperti Sumpah Pontianak (1958) dan Chuchu Datuk Merah (1963). Pada tahun 1957, untuk kali pertama karya musiknya dipentaskan untuk umum di Teater Victoria.

Masa selanjutnya

Pada tahun 1962, lagu Zubir untuk film Dang Anom memenangkan penghargaan dalam ajang Festival Film Asia yang kesembilan di Seoul, Korea Selatan.[6] Saat itu, ia masih bekerja di perusahaan film Cathay Keris. Sebelumnya, ia juga telah menciptakan banyak lagu terutama untuk film-fim Melayu. Namun pada tahun 1964, ia memutuskan untuk tidak lagi bekerja di perusahaan tersebut karena kecewa dengan keputusan manajemen yang memangkas biaya produksi. Sejak saat itu, ia lebih serius mengajar seniman-seniman muda tentang musik dibanding mengurusi rekaman lagu-lagunya. Putri ketiga Zubir yang merupakan mantan dosen Universitas Nasional Malaysia, Puan Sri Dr. Rohana Zubir, ingat betul bagaimana rumah keluarganya di Singapura selalu diisi dengan kegiatan maupun hal-hal yang berbau musik.

Selain semangatnya sebagai musisi, telah menjadi buah bibir bahwa Zubir memiliki tingkat kepedulian yang sangat tinggi dan mau berbagai, sehingga jerih payah dari hasil pekerjaannya dapat bermanfaat bagi orang lain. Di lain sisi, ia juga membantu keluarganya di Sumatera dan keluarga yang telah mengadopsinya di Singapura dengan mengirimkan mereka obat-obatan maupun bantuan lain yang mampu ia berikan, meskipun keluarganya sendiri tidak kaya pada waktu itu. Zubir mengatakan bahwa ia tidak pernah tergiur dengan uang, meskipun hal itu penting untuk kelangsungan hidup keluarganya. Namun, ia percaya bahwa uang yang diperoleh dari memberikan pelajaran musik dan menulis lagu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Ia mengutamakan kejujuran dalam bekerja, terutama orisinalitas dalam menghasilkan suatu karya.

Zubir tutup usia pada usia 80 tahun di Joo Chiat Place, Singapura, tepatnya pada tanggal 16 November 1987. Ia meninggalkan seorang istri, empat orang putri, dan seorang putra. Pada tahun 1990, kehidupan Zubir dan semangatnya sebagai musisi didokumentasikan dalam sebuah buku berjudul Zubir Said: His Songs (Zubir Said: Lagu-lagunya). Kemudian pada tahun 2004, patung Zubir yang terbuat dari perunggu dipajang di Taman Warisan Melayu, Singapura.

Artikel Terkait