Djamaludin Malik

  Rating: 0 ( 0 Votes)
Dikirimkan pada 31 Jul, 2015 | Dibaca: 559 | Nomor Artikel: #0557
Sarankan Laporkan Print Favorit

Djamaludin Malik (lahir di Padang, Hindia-Belanda, 13 Februari 1917 – meninggal di München, Jerman, 8 Juni 1970 pada umur 53 tahun) adalah pengusaha, politisi, dan produser film Indonesia, yang juga dikenal sebagai Bapak Industri Film Indonesia dan penggagas Festival Film Indonesia. Lahir di Padang dari keluarga yang masih memiliki garis keturunan dengan Raja Pagaruyung di Tanah Datar, ia pada awalnya hanya bekerja sebagai pegawai perusahaan pelayaran Belanda, Koninklijke Paketvaart Maatschappij. Pada tahun 1940-an, ia terjun sebagai pengusaha dengan mendirikan perusahaan Djamaludin Malik Concern. Ia mulai terlibat dalam industri perfilman ketika ia mendirikan kelompok sandiwara Bintang Timur dan perusahaan film Persari (Perseroan Artis Indonesia). Film pertama yang diproduksinya berjudul Sedap Malam pada tahun 1950.

Pada tahun 1955, setahun setelah mendirikan Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI) bersama Usmar Ismail, ia memelopori terselenggaranya Festival Film Indonesia I. Bersama Asrul Sani, ia juga mendirikan Lembaga Seniman Budayawan Muslimin untuk menentang Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), yang disokong oleh Partai Komunis Indonesia. Ia juga aktif berpolitik, yakni sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Pertimbangan Agung. Ia pernah menjabat Ketua Dewan Film Nasional dan Ketua III Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Namun aktivitasnya di bidang politik berujung pada tuduhan ia bersimpati pada pemberontakan PRRI di Sumatera, sehingga mengakibatkan ia dipenjarakan pada tahun 1958 dan dibebaskan tak lama kemudian setelah tuduhan yang ditujukan kepadanya tidak terbukti.

Djamaludin meninggal pada tahun 8 Juni 1970 akibat penyakit komplikasi setelah beberapa lamanya dirawat di Muenchen, Jerman Barat. Jasadnya kemudian dibawa ke Jakarta untuk dimakamkan di pemakaman Karet Bivak. Ia dianugerahi gelar Bintang Mahaputra Adipradana II pada tahun 1973 dan kemudian dikukuhkan sebagai pahlawan nasional. Selain itu, namanya juga disandingkan dengan Usmar Ismail sebagai dwitunggal perfilman Indonesia

Kehidupan awal

Pada awalnya, ia hanya bekerja sebagai pegawai Koninklijke Paketvaart Maatschappij, sebuah perusahaan pelayaran Belanda di Indonesia. Karena kemampuannya dalam memumpuk modal, pada tahun 1940-an ia terjun sebagai pengusaha dan mendirikan Djamaludin Malik Concern, perusahaan yang semula hanya bergerak di bidang perdagangan komoditi, kemudian seiring berjalannya waktu, terus berkembang dan merambah berbagai sektor, termasuk perdagangan tekstil, kayu, pelayaran, dan kontraktor.

Pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia, ia membentuk kelompok sandiwara Bintang Timur, kemudian membeli kelompok sandiwara Pancawarna dari Njoo Cheong Seng. Kelompok ini kemudian digunakannya untuk menghibur para pejuang yang sedang menghadapi Agresi Militer yang dilancarkan Belanda di Indonesia. Dari Bintang Timur dan Pancawarna, Djamaludin kemudian mendirikan Persari (Perseroan Artis Indonesia). Pada masa itu, Djamaludin Malik sebagai direktur utama telah mengendarai Chevrolet, dan bermukim di kawasan Menteng. Sutradara dan artis-artis utamanya juga ia belikan mobil, dan ditalangi untuk membeli rumah di Kebayoran Baru.

Sejak kecil, ia dikenal sebagai seorang yang dermawan. Namun meskipun suka menyenangkan orang lain, kehidupan pribadinya agak berantakan. Ia beberapa kali kawin cerai. Terakhir ia menikah dengan Elly Yunara, seorang keturunan Maroko. Dari perempuan inilah ia dikaruniai empat orang anak: Zainal Malik, Camelia Malik, Yudha Asmara Malik, dan Lailasari Malik. Putri keduanya Camelia Malik, kemudian meneruskan cita-citanya untuk mengembangkan industri perfilman Indonesia. Ia mendirikan PT Remaja Ellynda Film, yang telah menghasilkan film-film seperti Malin Kundang dan Jembatan Merah.

Karier perfilman

Djamaludin Malik merupakan tokoh yang banyak berjasa bagi perkembangan industri film Indonesia. Ia pertama kali memproduksi film pada tahun 1950 berjudul Sedap Malam. Dua tahun kemudian, ia melakukan produksi bersama dengan perusahaan film asal Filipina untuk film berwarna: Rodrigo de Villa (1952). Setelah itu dua film berwarna berikutnya kembali ia hasilkan, yakni Leilana (1953) dan Tabu (1953). Pada tahun 1954, bersama Usmar Ismail ia mendirikan Persatuan Perusahaan Film Indonesia (PPFI), dan mengajak organisasi tersebut untuk bergabung dengan Federasi Produser Film se-Asia. Hal ini bertujuan untuk mengangkat harkat dan martabat film Indonesia di tingkat internasional. Pada tahun 1955, ia memelopori terselenggaranya Festival Film Indonesia I. Djamal pula yang membiayai seluruh keperluan festival itu.

Pada masa Demokrasi Terpimpin, Djamaludin membentuk serikat seniman Muslim yang dinamai Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi). Dalam lembaga tersebut bergabung pula Usmar Ismail sebagai ketua umum dan Asrul Sani. Bergabungnya Usmar Ismail dan Asrul Sani ke dalam organisasi ini, menanggalkan kesan mereka selama ini sebagai anggota Partai Sosialis Indonesia (PSI); pada masa peralihan 1950-1960-an, semua orang-orang Minang intelek diasosiasikan sebagai anggota PSI yang menentang kediktatoran Soekarno. Lesbumi bertujuan untuk melawan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang disokong oleh Partai Komunis Indonesia. Namun sejak tahun 1963, Lekra lebih sering berbentrokan dengan aktivis Manifes Kebudayaan (Manikebu) yang dimotori oleh Wiratmo Soekito, Goenawan Mohamad, dan Taufiq Ismail.

Pada tahun 1964, ia memproduksi film Tauhid. Film yang disutradarai oleh Asrul Sani dan dibintangi Aedy Moward dan Ismed M. Noor ini diproduksi atas kerja sama antara Departemen Agama dan Departemen Penerangan Indonesia. Lokasi pengambilan gambarnya yang mengambil tempat di Mekkah, memberikan kepuasan tersendiri bagi kru film tersebut, karena bisa sekalian menunaikan ibadah haji.

Kehidupan akhir dan penghargaan

Hingga tahun 1966, Djamaludin telah memproduksi sebanyak 59 judul film, yang terakhir bertajuk Menyusuri Jejak Berdarah, dan memperoleh penghargaan untuk kategori tata sinematografi terbaik dalam Pekan Apresiasi Film Nasional 1967. Pada tahun 1969, ia ditunjuk sebagai Ketua Dewan Film Nasional. Posisi itu diembannya hingga ia meninggal. Pada awal 1970, ia menderita penyakit komplikasi, dan beberapa waktu lamanya ia dirawat di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta, sebelum akhirnya berobat ke Muenchen, Jerman Barat. Di kota ini, pada tanggal 8 Juni 1970, Djamaludin meninggal. Jasadnya kemudian diterbangkan ke Jakarta, dan dikebumikan di pemakaman Karet Bivak. Atas jasa-jasanya, ia dianugerahi gelar Bintang Mahaputra Adipradana II pada tahun 1973 dan kemudian dikukuhkan sebagai pahlawan nasional. Selain itu, namanya juga disandingkan dengan Usmar Ismail, sebagai dwitunggal perfilman Indonesia.

Filmografi

  • Sedap Malam (1950)
  • Rodrigo de Villa (1952)
  • Leilani (1953)
  • Tabu (1953)
  • Tarmina (1955)
  • Lewat Djam Malam (1955)
  • Ratu Asia
  • Tauhid (1964)

Artikel Terkait